Orangtua yang memiliki anak penyandang
autisme perlu bersabar, lebih peduli, memahami kebutuhan anak, berupaya tegas
namun tidak keras, dan semuanya itu bisa dijalankan dengan berempati.
Psikiater, dr Kresno Mulyadi, SpKj,
menyebutkan lima kebutuhan anak penyandang autisme, yang perlu diperhatikan
lebih ekstra oleh orangtua juga keluarganya. "Dalam mengasuh dan merawat
anak dengan autisme, kunci utamanya adalah empati," katanya kepada Kompas
Female di sela acara peluncuran buku karangannya, Autism is Treatable, yang diterbitkan Sekolah Tinggi Ilmu
Komunikasi The London School of Public Relations Jakarta memperingati hari jadi
LSPR Jakarta ke-19, di Jakarta.
Perlu dipahami, autisme merupakan suatu
spektrum dengan rentang yang luas. Artinya ada autisme berat, sedang, ringan,
dan sangat ringan. Semuanya bisa diterapi. Semuanya juga membutuhkan empati
orangtua dalam mengasuh dan merawat anak autis.
1. Komunikasi
Biasanya, yang terjadi pada pengasuhan
anak dengan autisme adalah komunikasi yang tidak optimal antara anak autis dan
orangtuanya. Setiap kali berkomunikasi dengan anak autis, orangtua perlu
bersabar dan tidak menekan anak.
"Ajak anak bicara pelan-pelan,
beritahu anak apa maksud Anda. Saat berkomunikasi, bisa jadi anak sedang berimajinasi,
sehingga ia tidak menangkap pesan Anda saat itu. Jadi, bersabarlah, dan pahami
kondisinya saat itu, ajak lagi ia berbicara agar maksud Anda tersampaikan dan
diterima anak dengan baik," jelas motivator anak yang akrab disapa Kak
Kresno ini.
2. Sosialisasi
Pada anak dengan autisme berat ia
cenderung menyendiri, sedangkan anak dengan autisme ringan cenderung memberi
kesan ia pilih-pilih terhadap sesuatu.
Sekali lagi, pesan Kak Kresno, kenali
autisme pada anak, dan jangan melarang anak melakukan apa yang disukainya atau
membuatnya nyaman. Temani anak dalam berkegiatan, usahakan jangan ada
pemaksaan. Jangan juga memberikan labeling pada anak ketika ia melakukan
sesuatu yang menurut kebanyakan orang, aneh. Pahami kondisi anak Anda,
berempati lah atasnya.
3. Emosi
Anak penyandang autisme memiliki emosi
yang labil. Ia mudah marah, takut yang tidak rasional, tertawa berlebihan,
jelas Kak Kresno. Namun jangan pernah menganggap perilaku anak autis sebagai
sesuatu yang aneh.
Sebagai orangtua, Anda perlu memperlakukan
anak autis dengan lebih bijak. Pahami emosinya. Bagaimana pun anak autis
memiliki perasaan yang peka. Ia bisa sangat peka, namun juga bisa tidak punya
empati sama sekali. Perlakuan orangtua atau keluarga yang keliru atas emosinya,
berdampak pada anak autis.
"Dengan tidak memahami emosi,
tidak berempati atas emosi anak autis, konsep dirinya akan jatuh. Sama seperti
anak pada umumnya, ketika ia diberi label, maka ia justru akan menjadi seperti
yang dilabelkan kepadanya. Jika mengatakan anak nakal, maka ia akan benar-benar
bersikap nakal," jelas Kak Kresno.
4. Repetitif
Anak penyandang autisme cenderung
melakukan sesuatu yang disenanginya secara berulang. Lagu yang disukainya
diputarnya berulang kali. Makanan yang disukainya akan terus menerus dikonsumsinya
setiap kali ia lapar. Pakaian yang disenanginya akan terus dipilihnya, cuci
pakai berulang-ulang,
"Perilaku repetitif ini dialami
sejumlah anak penyandang autisme. Tugas orangtua adalah mengenalkan hal lain
yang berbeda kepadanya. Kalau anak belum mau, tidak apa, jangan dipaksa, namun
jangan juga memberikan labeling kepada anak atas perilaku repetitifnya,"
lanjutnya.
5. Persepsi
Anak autis kerapkali tidak nyaman
dengan penginderaannya. Ia tak menyukai suara tertentu yang didengarnya.
Matanya tak nyaman saat memandang sinar tertentu. Orangtua perlu berempati dan
memahami kondisi ini.
"Orangtua perlu menyikapi dengan
cara yang tepat. Sabar, berempati, namun tidak memanjakan. Berupaya tegas namun
tidak keras," tandas Kak Kresno.
0 Response to "5 Kebutuhan Anak Autis "