Orientasi Nilai Budaya

eonepoerma.blogspot.com ~ Orientasi nilai budaya – sistem nilai budaya dalam masyarakat dimanapun didunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

·         Hakikat hidup manusia (MH)
Hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda-beda secara ekstrim, ada yang berusaha untuk memadamkan hidup (nirvana = meniup habis), adapula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik “mengisi hidup”

·         Hakikat karya manusia (MK)
Setiao kebudayaan hakikatnya berbeda-beda, diantaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

·         Hakikat waktu manusia (MW)
Hakikat untuk setiap kebudayaan berbeda, ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau yang akan datang.

·         Hakikat alam manusia (MA)
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kapada alam.

·         Hakikat hubungan manusia (MM)
Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Adapula yang berpandangan individualistis (menilai tinggi kekuatan sendiri) untuk memudahkan memahami sistem nilai budaya ini.
Penelitian mengenai makna hidup dan makna kerja telah dilakukan tahun 1987 dilima komunitas masyarakat indonesia, yaitu daerah istimewa aceh, sumatra barat, sumatra selatan, kalimantan barat, dan bali. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa ada 3 pandangan dasar tentang makna hidup, yaitu:
1.  Hidup untuk bekerja,
2.  Hidup untuk beramal, berbakti, dan
3.  Hidup untuk bersenang-senang.
Sebanyak 89% berpandangan bahwa hidup ialah untuk bekerja, sisanya berpandangan bahwa hidup untuk beramanal dan bekerja. Untuk makna kerja diperoleh hasil bahwa kerja itu:
1.  Untuk mencari nafkah dan mempertahankan hidup,
2.  Untuk anak-cucu,
3.  Untuk kehormatan
4.  Untuk kepuasan dan kesenangan,
5.   Untuk amal ibadah.
Makna kerja untuk mencari nafkah mencapai 79,3% dan untuk anak-cucu 63,7% (buchori dan wiladi, 1982).
 

0 Response to "Orientasi Nilai Budaya"