Menurut penelitian Johns, istilah kata “santri” berasal
dari bahasa tamil yang berarti “guru mengaji”. Sedangkan C.C Berg berpendapat
bahwa istilah santri berasal dari kata “shastri”, yang dalam bahasa India
berarti “orang yang mengetahui buku-buku suci agama hindu”. Pendapat ini
didukung oleh Karel. A. Steenbrink, yang menyatakan bahwa pendidikan pesantren,
dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, memang mirip dengan pendidikan ala
Hindu di India.[1]
Ada juga yang berpendapat bahwa kata “santri” berasal
dari kata sastri, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya “melek huruf”
alias bisa membaca. Pendapat ketiga mengatakan bahwa perkataan santri
sesungguhnya berasal dari bahasa jawa, dari kata cantrik, yang berarti
“seseorang yang selalu mengikuti gurunyaa kemanapun gurunya pergi/menetap.” [2]
Terlepas dari asal usul kata santri, jika ditelusuri
secara mendalam, maka kata “santri” mengandung beberapa arti:
Pertama; tiga matahari. Pengertian
ini diambil dari kata san dan tri. “san” adalah bahasa inggris yang sudah
diIndonesiakan, yang asalnya adalah Sun (matahari). Sedangkan “tri” juga bahasa
inggris yang berarti tiga. Sehingga bila disusun, santri mengandung arti “tiga
matahari”. Adapun yang dimaksud tiga matahari itu adalah Iman, Islam, dan
Ihsan. Ini menunjukkan bahwa santri adalah orang yang berpegang teguh pada
Iman, Islam, Ihsan.
Kedua; arti santri adalah jagalah
tiga hal. Pengertian ini mengambil dari kata “San” dan “Tri” juga. “San” adalah
bahasa arab yang sudah di-Indonesiakan, yang berasal dari kata Sun (jagalah).
Sedangkan “Tri” adalah bahasa Inggris yang berartikan tiga. Jika disusun,
mengandung arti “jagalah tiga hal”. Tiga hal tersebut adalah, (1) jagalah
ketaatan kepada Allah, (2) Jagalah ketaatan kepada Rasul-Nya dan (3) para
pemimpin.
Ketiga: jika ditulis dengan tulisan
arab, maka kata “santri” terdiri dari lima huruf, yaitu : س, ن, ت, ر, ي. Artinya
ialah:
سِيْنَ (sin) asalnya yaitu سَتْرُ الْعَوْرَةِ (menutup
aurat). Arti ini memberi kepahaman bahwa santri termasuk orang yang selalu
menutup aurat sekaligus berpakaian sopan.
نُوْن (nun) asalnya نَهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِadalah
(meninggalkan maksiat). Pengertian ini menunjukkan bahwa kata santri adalah
orang yang meninggalkan perbuatan maksiat.
رَاءْ(ra’)
asalnya ialah تَرْكُ
الْمَعَاصِيْ(menjaga diri dari hawa nafsu). Ini berarti para santri adalah
orang yang selalu menjaga hawa nafsunya, agar tidak terjerembab dalam
kenistaan.
) ياَءْ Ya) asalnya
yaitu يَقِيْنٌ(yakin/mantab).
Hal ini memberi pemahaman bahwa santri adalah orang yang selalu yakin dan
mantap dengan cita-citanya. Karena para santri umumnya meyakini salah satu
kandungan ndham imrithi:
إِذِ الْفَتَي حَسْبَ
اِعْتِقَاَ دِهِ رُ فِعْ # وَ كُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْـتَفِعْ
Artinya: “ketinggian derajat pemuda, tergantung pada
keyakinannya. Setiap orang yang tidak mempunyai keyakinan, maka ia tidak ada
gunannya”.
Sedangkan menurut Dr. KH. M.A
Sahal Mhafud, yang menilai kata santri berasal dari bahasa arab, yaitu dari
kata “santaro”, yang berarti “menutup”. Kalimat ini mempunyai bentuk jamak
(plural) sanaatir (beberapa santri).
Sementara KH. Abdullah
Dimyathy (alm) dari Pandeglang Banten, berpendapat bahwa kata santri
mengimplementasikan fungsi manusia, dengan 4 huruf yang dikandungnya : sin =
“satrul al aurah” (menutup aurat), Nun = “na’ibul ulama” (wakil dari ulama),
Ta’ = “tarkul al ma’ashi” (meningglkan kemaksiatan), Ra’ = “ra’isul ummah”
(pemimpin ummah).[3]
0 Response to "Pengertian Santri"